AKSI 112: Mengharukan...Laskar FPI Berikan Payung dan Antar Pengantin ke Gereja Katedral

Untuk menampilkan postingan feed blog dari platform seperti Blogger di situs web lain, Anda dapat menggunakan teknik seperti RSS feed atau API (Application Programming Interfaces). Berikut gambaran umum tentang bagaimana Anda dapat mencapai hal ini menggunakan HTML, CSS, JavaScript, dan PHP :

1. RSS Feed

Blogger dan banyak platform blog lainnya menyediakan RSS feed secara default. Anda dapat menggunakan JavaScript atau PHP untuk mengambil dan menampilkan feed ini di situs web Anda. Berikut panduan langkah demi langkah :

Tangis Jamaah Aksi 112 Pecah Saat Zikir Bersama


Zikir yang dipimpin oleh Ustadz Arifin Ilham dalam pembukaan aksi 112, Sabtu (11/2) membuat suasana syahdu ribuan jamaah yang berkumpul di Masjid Istiqlal. Gema zikir pun memenuhi langit-langit Istiqlal.

Terlihat beberapa jamaah menitikkan air mata oleh lantunan zikir yang diucapkan bersama-sama. Arifin Ilham terus mengucapkan lantunan zikir hingga suaranya bergetar. "Ya Alllah, ya Allahu ya Allah," ucapnya.

Beberapa jamaah bahkan tak sanggup menahan airmatanya hingga harus menutupi wajajnya dengan serban. Zikir terus dilantunkan. "Setiap helaian nafas, setiap detik akan kita pertanggungjawabkan kelak. Setiap nafas isi dengan zikir," pesan Arifin Ilham pada para jamaah.

Dalam doa penutupnya, Arifin Ilham memohon ampunan kepada Allah. "Di subuh mubarak ini, hujani kami dengan Rahmat ampunan-Mu Ya Allah," ujarnya.

Tangis jamaah makin pecah bersama dengan doa-doa dari Arifin Ilham. "Kau masih izinkan kami untuk bernafas, berarti Engkau masih izinkan kami bertaubat. Ampuni kami ya Allah," kata Ilham.

Di Depan Kincir Angin, Muslim Indonesia di Belanda Dukung Aksi 112


Kaum Muslim Indonesia di Belanda mendukung aksi 112 yang digelar umat Islam Indonesia di Masjid Istiqlal hari ini, Sabtu (11/2/2017). Warga muslim Indonesia di Belanda yang mendukung Aksi Damai 112 itu menggelar Aksi Belanda 112 di depan kincir angin Molen de Vlieger  di kota Den Haag, Belanda, Jumat (10/2/2017).

Mereka membentangkan bendera merah putih, bendera Belanda, dan pamflet  bertuliskan “Belanda 112”, “Mendukung”, “Bela Islam 112”.

Dalam rilis dan video yang dikirimkan kepada Republika.co.id, Jumat (10/2/2017) malam waktu setempat, atau Sabtu (11/2017) Waktu Indonesia Barat, kelompok yang menyebut diri mereka “Warga Muslim Indonesia di Belanda yang mendukung Aksi Damai 112” itu menyebutkan, Aksi Belanda 112  adalah dalam rangka aksi damai Bela Islam 112 di Jakarta. Turut hadir dalam Belanda 112 itu perwakilan saudara-saudara Muslim dari Den Haag dan sekitarnya, dan Rotterdam dan sekitarnya.

Mereka juga mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut. Pertama, mendukung penerapan Al-Maidah 51 untuk Ibu Kota yang  beradab dan untuk NKRI yang kita cintai.

Kedua, mendukung penegakan hukum dan penegakan keadilan di Indonesia.

Ketiga, menolak penistaan Alquran, menolak penistaan agama, menolak penistaan ulama, dan mendukung kerukunan beragama.

Keempat, mendukung NKRI dan menolak perpecahan bangsa.

Nah Ini Rangkaian Acara Aksi 112 di Masjid Istiqlal


Forum Umat Islam (FUI) menginisiasi acara Dzikir dan Tausiyah Nasional penerapan Al Maidah 51 (Aksi 112) di Masjid Istiqlal. Pada Sabtu (11/2) dini hari, massa yang akan mengikuti aksi 112 berangsur datang ke Masjid Istiqlal.

Koordinator Lapangan Logistik FUI Acara Dzikir dan Tausiyah Nasional, Khalid Al Amri mengatakan, dini hari ini akan melakukan pengkondisian massa yang baru datang. Massa yang sudah masuk ke dalam Masjid bisa langsung melaksankan Shalat Tahajud, dan itu tergantung dari inisiatif massa.

"Kemudian massa melaksanakan Shalat Subuh dan mendengarkan ceramah," kata Khalid kepada Republika.co.id, Sabtu (11/2).

Ia menerangkan, pada pukul 07.00 sampai 09.00 WIB ada acara internal yang digelar Masjid Istiqlal. Tetapi, massanya masih massa yang sama karena telah bercampur di Masjid Istiqlal.

Pada pukul 09.00 sampai 12.00 WIB, dikatakan Khalid, acara puncak Dzikir dan Tausiyah Nasional yang diprakarsai FUI. Setelah itu, acara selesai.

Dari pantauan Republika.co.id, pada Sabtu (11/2) pukul 04.00 WIB, massa aksi 112 terus berdatangan secara berduyun-duyun. Sebelumnya, Khalid juga menyampaikan, massa dari luar Pulau Jawa sudah datang sebagian ke beberapa Masjid di Jakarta pada Sabtu (11/2) dini hari. Mereka akan merapat ke Istiqlal pagi hari.

Sumber Republika Rep: Fuji EP/ Red: Ilham

Gerakan Umat yang Tak Terbendung


“Saya baru saja menyelesaikan operasi, alhamdulillah langsung berangkat,” ucapan dokter spesialis bedah syaraf itu membuatku bergetar. Hanya Allah yang mampu menggerakkan beragam profesi untuk bergerak seperti ini.

Dan ia bukan dokter satu-satunya. Sebab yang berada di sampingnya adalah teman seprofesi juga, dari rumah sakit yang sama.

Bahkan bukan dokter spesialis satu-satunya. Sebab seorang dokter spesialis mata juga berangkat bersama seluruh keluarganya. Kecuali seorang putri yang tak bisa ikut ke Jakarta karena hari ini ia harus melaunching rumah makan perdananya.

Pengusaha, jumlahnya lebih banyak lagi. Dari pengusaha kecil sampai yang omsetnya milyaran.

“Aku berjanji, kalau ada Aksi lagi aku akan ikut,” kata seorang pemuda yang baru merintis usaha. Ia tertinggal saat Aksi 411 dan 212.

Seorang pengusaha busana muslim dan properti yang sebulan omsetnya mencapai milyaran, juga berangkat ke Jakarta. Sewaktu Aksi 212 ia tak bisa hadir karena masih keliling di beberapa negara.

Seorang teman yang menduduki jabatan di perusahaan minyak, dini hari sudah sampai Masjid Istiqlal bersama anggota keluarganya. Ia sengaja mengambil cuti untuk bisa ikut Aksi 112 ini.

Sekali lagi, hanya Allah yang mampu menggerakkan beragam profesi untuk bergerak seperti ini. Dialah yang menguasai hati hambaNya. Maka seruan-Nya akan menggerakkan umat, dan tak bisa dibendung. Sebab Dialah pemilik Al Maidah 51. Dialah pemilik kalam suci. Yang jika Dia telah berkehendak, maka Dia menunjukkan kuasaNya; menggerakkan orang-orang beriman yang cinta Alquran.

Orang yang tak memahami logika iman ini, akan terperangah melihat lautan massa. Dari mana mereka datang. Pemberitaan Aksi 112 ini tidak semasif aksi 411 dan aksi 212.Yang memprakarsai pun bukan GNPF MUI. Dua ormas besar juga menahan diri. Bahkan banyak upaya menghalang-halangi. Namun dini hari, lantai 1 dan lantai 2 Masjid Istiqlal sudah penuh. Umat berdatangan bagai air bah; dari berbagai sudut di Jakarta. Dari berbagai daerah dengan bus, kendaraan pribadi, pesawat dan kereta.

Orang yang tak memahami kuasaNya, mereka masih saja mencari-cari siapa sutradara intelektualnya. Lalu mereka pun salah langkah; membendung manusia, menghalang-halangi manusia, padahal masalah utamanya karena menista kalam suciNya. Seharusnya sikap terbaik adalah bertaubat kepadaNya. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Penyandang Tuna Netra Turut Aksi 112: Kami Mau Bela Ulama

Baharudin, salah sorang tuna netra dari Kampung sawah, Bekasi.

Jari-jemari mereka lincah meraba Al-Quran versi Braille. Al-Quran khusus bagi tuna netra. Bagi mereka, membedakan huruf alif, lam, mim dan huruf hijaiyah lainnya bukanlah kendala. Lantunan suara tilawah mereka pun terdengar merdu.

Sebanyak enam belas orang tuna netra berjalan beriringan menuju barisan shof bagian depan di Masjid Istiqlal. Dengan memegang satu pundak ke pundak lain, mereka melangkah mengikuti suara komando, orang yang berada paling depan.

Baharudin, ialah salah seorang tuna netra asal Jl. Kampung Sawah, Jatimelati, Kota Bekasi. Ia datang bersama enam belas kawannya mengikuti aksi 112. Ada sebelas tuna netra berangkat dari Bekasi, lima orang lainnya dari Kelapa Gading, Jakarta. Baharudin berangkat menuju Masjid Istiqlal hanya menggunakan angkutan umum.

“Kami ke sini mau membela ulama,” katanya kepada Kiblat.net dengan tegas di Masjid Istiqlal pada Jumat (10/02).

Ayah satu anak ini juga mengatakan bahwa para tuna netra yang datang tidak mengatasnamakan kelompok tertentu. “Kita sebenarnya banyak dari elemen-elemen. Tapi yang kita bawa adalah soal tuna netranya,” tuturnya.

Bahar berharap, dengan mengikuti aksi 112 ini dapat menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Selain itu, ia juga berharap dapat memotivasi kaum Muslimin yang tidak menyandang kekurangan fisik mau tergerak untuk membela agama.

“Siapa tahu orang sekitar kita berpikir gini ‘yang gak liat aja ikut aksi, masak yg bisa lihat nggak ikut’. Bagaimana biar orang-orang berpikir. Konon, keterbatasan orang lain membuat orang lain termotivasi,” ujarnya.

Ahli pijat dan bekam ini juga mengomentari beberapa kasus akhir-akhir ini. Soal kasus Ahok, ia menilai, fenomena ini mengandung dampak positif bagi umat Islam. Yaitu persatuan. Terkait kriminalisasi ulama, ia mengatakan sudah sejak dulu ulama dimusuhi.

“Kriminalisasi ulama hanya istilah doang yang diganti. Dari zaman tahun 1960-an ulama juga sudah dimusuhi. Kasus PKI itu yang dibunuh siapa? Ya ulama juga,” ujarnya.

Ia pun berpesan kepada ummat Islam untuk merapatkan barisan. Menghindari perkara khilafiah. “Jangan karena yang satu cingkrang, yang satu nggak cingkrang terus nggak teguran,” tukasnya.

Di Istiqlal, Massa 112 Disambut “Om Kantong Om”


Meski telah berganti tema, umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia tetap antusias mengikuti aksi 112. Sebagai mana diketahui, aksi yang awalnya long march dari Masjid Istiqlal menuju bundaran Hotel Indonesia ini diubah menjadi tausyiah dan zikir.

Bukan sekadar tausyiah dan zikir, menurut Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), tausyiah dan zikir ini untuk keselamatan bangsa Indonesia. “Acara yang diadakan terkait tausyiah, dzikir dan doa untuk keselamatan bangsa,” kata Ust. Bahtiar Nasir di Bareskrim Mabes Polri pada Jumat (10/02).

Momentum seperti ini juga menjadi rezeki tersendiri bagi para pedagang. Mereka menggelar dagangan mereka sepanjang gerbang utama depan Gereja Katedral hingga pintu masuk masjid. Dari jam tangan, pakaian hingga cincin akik.

Bus-bus berbaris rapi, namun tak ada suara “Om Telolet Om”. Tapi “Om Kantong Om”. Penjual kantong kresek untuk wadah sandal atau sepatu lebih banyak dari biasanya.

Meski suasana kian larut, semangat peserta 112 untuk beribadah tak surut. Bacaan Al-Quran terlantun, di sisi lain orang-orang terlihat khusyuk dengan sholat mereka.

Sebagian anak-anak juga masih ceria berlarian di serambi masjid. Sementara sebagian lainnya tertidur pulas ditemani kedua orang tuanya. Hingga saat ini, Masjid Istiqlal masih menampung kedatangan pejuang Al-Maidah 51 dan pembela ulama.